Feeds:
Pos
Komentar

Mengarang Itu Gampang

Penulis : Arswendo Atmowiloto

Penerbit : PT Gramedia (1981-2001)

“Jangan hanya membaca. Kalau saat itu sudah mencoba mengarang, pasti lain halnya. Untuk yang terakhir ini saya percaya penuh. Cobalah mengarang sekarang juga, jangan menunggu dua puluh tahun lagi. Jangan menunggu dua hari lagi. Sekarang juga. Tutup buku ini, mulai.”

Begitu tulis Arswendo dalam pengantar edisi kedua buku Mengarang Itu Gampang yang sudah lebih dari 5 kali cetak ulang selama sepuluh tahun sejak 1981 hingga 2001. Paragraf terakhir Arswendo itu mendorong saya untuk terus memamah isi bukunya. Sebagai penulis pemula, kata-katanya cukup melecut untuk penasaran mengetahui trik dan resep apa yang dipunya seorang maestro agar menulis (baca: mengarang) bisa lebih mudah dan ciamik. Maka saya pun menekuni setiap bab pada buku itu dengan gairah yang menyala.

Buku itu tak terlalu tebal. Hanya 118 halaman. Cukup ringan untuk sebuah buku panduan. Ditulis dengan teknik tanya jawab. Gaya bahasanya juga ringan dan bertutur meski materi bahasannya berat. Wendo tampaknya cukup mahir menjadikan yang berat jadi enteng, yang berkabut menjadi jernih dan terang.

Tapi ada “tapinya”. Saya jadi jenuh saat memasuki lembaran tengah. Semangat dan gairah yang sejak awal saya sulut mendadak meredup dan menghentikan alur baca saya hingga hanya membaca sekilas lalu. Pada awal bab, Wendo mengajak pembaca untuk melihat alasan mengapa menurutnya mengarang itu gampang. Ada 4 pondasi yang diletakkannya untuk mengatakan menulis itu gampang. Pertama, harus bisa membaca dan menulis. Syarat ini tentu banyak yang bisa memenuhi, tak terlampau sulit.

Kemudian pondasi berikutnya adalah minat dan ambisi yang terus-menerus. Membaca dan menulis yang baik perlu latihan, perlu disiplin, perlu minat yang tak kunjung habis. Minat dan ambisi seperti juga rasa cinta, selalu ada, terus mengalir. Ini didasarkan pada kepercayaan diri, bahwa dengan mengarang kita melakukan sesuatu yang dicintai, dan kita percaya, ada Sesutu yang baik yang akan kita lakukan dengan itu. Wendo benar tentang ini. Rasa cinta memang membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dan ringan dijalani. Jika sudah ada rasa cinta, maka langkah akan mengalir dengan sendirinya. Semangat ini menjadikan menulis terkesan mudah.

Pondasi sudah diletakkan. Wendo kemudian menuntun memahami bagaimana meramu sebuah ilham sehingga menjadi ide. Diperlukan dua hal yang bisa menjadi kompas: Untuk apa kamu menulis? Apa sebenarnya kemauanmu menulis? Di sinilah peran pandangan penulis terhadap sebuah ilham sangat menentukan. Pada bagian ini penulis bisa memilih ingin menggabung realitas dan imajinasi dengan porsi dan cara bagaimana. Sebagian atau keseluruhan, terserah penulisnya. Ide yang sudah ada itu hanya akan menjadi sebatas ide jika tak dituliskan. Maka segera saja mulai menulis. Jika belum siap, bisa diawali dengan membuat coretan tentang ide dasar yang ingin dikembangkan. Untuk itu diperlukan pengetahuan tambahan. Maka penulis harus mencari informasi pendukung idenya itu sehingga bahan yang akan diolah makin banyak.

Saya sepakat dengan Wendo. Di era internet ini, mencari bahan pendukung penulisan sudah bukan hal sulit. Cukup tanyakan Paman Google, dan segudang bahan akan tersedia. Hanya tinggal diperlukan kemahiran menguatak-atik bahan dan menyelipkan gagasan kita dalam rangkaian tulisan. Tugas seorang pengarang sebenarnya adalah menggabung-gabungkan hal yang sepertinya tak ada hubungannya menjadi saling terkait. Ini adalah seni menulis kreatif yang merupakan sikap dasar penulis. Kreatif menggabung-gabungkan, seperti menjahit kain perca hingga menjadi lembaran warna-warni yang cantik dan unik berirama.

Sampai tahap ini saya masih cukup mengikuti alur buku ini. Memasuki bahasan berikutnya, saya mulai jenuh. Ini seperti mendapat pelajaran mengarang di sekolah. Beberapa macam jenis plot dipaparkan. Plot dengan ledakan, plot lembut, plot lembut meledak, plot terbuka, plot tertutup, sampai bagaimana mengembangkan plot. Plot yang sudah didapat, tulis Wendo, harus dikembangkan dengan mencari sebab agar mendapat kesimpulan akibat. Kemudian bagaimana plot ini dikunci dengan penutup dan akhir yang tepat.

Selanjutnya diulas bagaimana menghadirkan tokoh, memilih tempat/lokasi cerita dan penggambarannya. Diakhir baru dibahas mengenai tema. Ini agak janggal, karena tema biasanya justru dibahas diawal sebagai sebuah bagian besar dari rentetan teori sebelumnya. Ini barangkali seperti teori paramida terbalik. Yang besar ada di belakang.

Teori yang coba disederhanakan dengan cara dialog ini memang menjadi terkesan ringan, namun tetap saja membuat kepala penuh teori yang mengesankan mengarang jadi berat dan susah karena banyak aturannya. Bagi penulis pemula, hal ini membuat awal menulis jadi terasa berat sekali. Aturan hanya membuat ide penulisan cupet. Belum-belum sudah dihadang aturan yang menggertak bahwa tulisan yang tidak patuh aturan adalah tulisan buruk.

Tips dan trik yang saya harapkan tidak terlampau terpenuhi sampai halaman ke 65 buku ini. Saya hanya seperti mendapat pengulangan dari pelajaran mengarang saya di sekolah.

Pada sisa bab yang ada, penulis memberikan bonus pengetikan dan ejaan yang baik. Ini menjadikan beban untuk memulai tambah berat dipundaki. Baru mau mengawali sudah tambah beban ejaan yang rumit diingat. Mau mulai mengetik saja sudah khawatir ejaan dan bahannya tidak tepat. Materi tambahan ini jika tidak suka bisa dilewatkan saja, karena meski menulis dengan ejaan yang benar itu lebih baik dan penting, namun tugas itu bisa menjadi lebih ringan ketika dibagi dengan editor yang lebih menguasai ilmunya. Tugas penulis adalah menulis.

Bonus lain di bab akhir adalah bagaimana mengirim karangan ke media. Bagaimana antisipasi jika karangan ditolak. Hingga sistem pembayaran honor. Pentingnya membaca karya satra, dan juga beberapa pekerjaan alternatif yang bisa dijadikan sandaran hidup seorang penulis. Walau saya kurang yakin, Wendo tetap keukeuh menyakinkan untuk percaya bahwa mengarang itu gampang. Tinggal menjajal dan membuktikannya. Percaya bahwa mengarang itu pekerjaan terhormat, tidak kalah dan tidak lebih daripada profesi-profsi lain. Buku ini adalah buku yang cukup legendaris pada era 80an. Ketika itu menulis masih belum dianggap pekerjaan menjanjikan. Sehingga kehadiran buku ini cukup membantu sebagai panduan bagi mereka yang ingin mulai menekuni dunia tulis menulis. Nama besar seorang Arswendo mempengaruhi larisnya buku ini di pasaran.

Saya pribadi sebagai penulis pemula, melihat buku ini lebih sebagai panduan menulis dengan baik, bukan sebuah buku yang memberikan tips dan trik menulis sehingga menjadi mudah. Alasan kecintaan pada profesi memang bisa membantu beban menjadi ringan, namun untuk menjadikannya mudah butuh panduan dan penjelasan yang mudah dimengerti pula. Buku ini tidak cukup mengakomodir itu. Gaya penulisannya memang ringan, namun topik bahasannya berat. Contoh-contoh buku yang dihadirkan pun cenderung jarang dikenal. Sebut saja The Social Construction of Reality-nya peter l berger dan Thomas Luckman, Little House on the Priere-nya Laura Ingall Wilder, Untung Suropati-nya Abdul Muis, dan sebagainya. Bagi yang tidak pernah membaca buku ini akan sulit sekali menangkap penggambaran yang dimaksudkan penulis.

Terlepas dari kekurangan dan kelemahannya, buku ini layak menjadi referensi bacaan dan panduan bagi mereka yang telah rajin menulis, telah menemukan menulis sebagai sebuah aktivitas yang penuh disiplin dan ingin mengembangkan kemampuannya sehingga tulisannya lebih bernas. Pada akhirnya mengarang tidak menjadi lebih gampang setelah membaca buku bertabur teori ini. (Diana AV Sasa)

Finding Forrester

Tulis Saja, Jangan Berpikir…!

 

“ Mulai lah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draft pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir”.

Itu adalah pelajaran pertama Jamal Wallace dari seorang penulis terkenal yang hanya menerbitkan satu buku kemudian menghilang, dan meraih Pulitzer, William Forrester. Pelajaran pertama yang mengasah bakat menulis Jamal hingga menjadi penulis yang berkarakter. Karakter yang ia temukan setelah menemukan serangkaian latihan demi latihan di kamar William. Khas Jamal yang menemukan titik setelah di caci maki Profesor di sekolahnya. Karya yang ditulis dengan hati.

Jamal adalah seorang kulit hitam yang tumbuh menjadi remaja di lingkungan Bronx. Kawasan ras kulit hitam yang padat dan kasar. Ia hidup serumah dengan ibunya. Ayahnya pergi karena tak tahan dengan omelan ibunya soal kebersihan. Saudara laki-lakinya ikut pergi setalah ayahnya pergi. Kesepian membawanya kesudut kamar dan melarikannya pada buku harian. Tempat ia menorehkan segala kecamuk hati.

Buku harian itu tertinggal di kamar William ketika suatu malam ia lari terbirit-birit setelah terpergok menerobos masuk rumah William tanpa ijin atas tantangan kawan-kawannya. Buku harian itu dikembalikan William dengan melempar tas dari jendela saat Jamal pulang sekolah. Sampai di rumah, Jamal mendapati catatan hariannya dicoret-coret dengan tinta merah. Lebih tepatnya dikoreksi dan diberi komentar. Diantaranya adalah komentar paragraf ini fantastik, ketelitian,bagus sekali, menakjubkan. Juga beberapa koreksi gramatika, dan sebuah pesan : Saya ingin mendukung penulis ini. Bisakah kita pergi keluar The Bronx sebentar?

Undangan itu dipenuhi Jamal. Tapi tak semulus harapannya. Kedatangannya dengan cara baik-baik ditolak mentah-mentah. Permintaannya agar William mau memeriksa beberapa catatannya lagi dibalas dengan tantangan menulis 5ribu kata tentang ‘Mengapa kau akan tetap berada di luar rumahku? ‘. Jamal pulang dengan kemarahan sekaligus tantangan. 5ribu kata itu dipenuhinya dibalik kamar dan diantara teriakan perempuan tetangganya yang sedang diamuk nafsu. Ia kembali beberapa hari kemudian.

Pintu rumah William akhirnya terbuka. Dari situ persahabatan mereka mulai terjalin. Pelajaran pembuka yang diterima Jamal mengenai esensi sebuah pertanyaan. Obyek dari pertanyaan adalah untuk memeproleh informasi yang berati bagi kita. Jadi jangan menanyakan hal-hal yang jawabannya sudah kita tahu, hanya untuk sebuah penegasan. Mereka menyebutnya ‘soup question’. Seperti sup krim yang jika tidak diaduk dan dibiarkan saja maka akan membuih. Pertanyaan seperti itu lama-lama akan menjadi bualan omong kosong jika diteruskan.

Pelajaran selanjutnya adalah tentang menghormati buku. Selalu kembalikan buku setelah dibaca ke raknya semula dengan rapi. Jangan sekali-kali melipat sudut kertas untuk menandai batas membaca. Itu seperti membuat kuping anjing saja. Menghina penulisnya.Pelajaran-pelajaran sederhana ini mengalir dalam pertemuan-pertemuan awal William dan Jamal tanpa sengaja. Sebuah pondasi yang dibangun untuk mencintai buku dengan hati melalui hal-hal kecil yang remeh sebelum mereka bersepakat untuk menjadi mentor dan murid.

William mau menjadi mentor asal tak ada pertanyaan tentang pribadinya, keluarganya, dan mengapa hanya satu buku yang ditulisnya. Ia juga meminta jaminan bahwa segala yang ia ceritakan yang terjadi di kamar itu tak akan pernah diceritakan pada orang lain. Jamal menerima semua syarat itu, asal William mengajarinya menulis. Maka pelajaran menulis itupun dimulai.

Sebagai awal, William meminjamkan judul dan paragraf pertamanya untuk memberi pancingan agar Jamal mampu menemukan kata-katanya sendiri. Strategi itu manjur. Tulisan pertama Jamal mendapat pujian Profesornya di kelas. Namun Profesor itu terus meragukan orisinilitas tulisan Jamal. Bagi sang Profesor, seorang anak kulit hitam dari The Bronx dan berasal dari sekolah kecil yang miskin sangat meragukan bisa memiliki tulisan sebagus itu.

Jamal tersinggung tulisannya diragukan. Namun ia tak marah. Disimpannya dendam itu untuk memicunya menulis lebih baik. Ia menulis lagi dengan dibantu judul dan paragraf dari William. Lalu ia mengumpulkan tulisannya untuk lomba menulis essay akhir tahun di sekolah. Sayang setelah menulis itu Jamal lalai tak mengganti judulnya. Begitu saja dibawa ke sekolah dan mengumpulkan untuk lomba menulis.

Kelalaian itu akhirnya menjadi bumerang. Profesornya-yang sejak semula meragukan kemampuannya- menemukan bahwa judul dan paragraf pertama itu pernah diterbitkan atas nama William Forrester di majalah New Yorkers. Jamal lemas tak berdaya. Dewan sekolah mengancam akan menarik beasiswa. Ia akan diampuni jika mau membuat surat permintaan maaf pada semua siswa atas plagiat yang dilakukannya atau mendapat ijin dari si empunya paragraf. Jamal tak memilih dua-duanya.

Ia marah sekali pada gurunya, William. Ia menyesal mengapa William tak mengatakan bahwa tulisan itu pernah dipublikasikan sehingga Jamal bisa menyebutkan sumber kutipan. Tapi William justru berbalik marah karena sejak awal ia sudah menerapkan bahwa apa yang ditulis di kamarnya akan tetap ada di kamarnya, tanpa kecuali. Jamal membela diri. Ketika ia akan minta ijin membawa tulisan itu keluar William sedang tertidur pulas. Jamal malah mengumpat dan mengatakan William tak lebih dari seorang pengecut. “Untuk apa menulis sampai almarimu penuh jika tak ada seorang pun diluar sana yang mengetahui tulisanmu?!” Wlliam naik pitam. Jamal juga. Mereka berseteru.

Jamal tidak menulis surat permintaan maaf, tapi juga tak mengatakan pada dewan sekolah atau siapapun bahwa ia telah mendapat ijin dari si empunya paragraf. Ia pegang teguh sumpahnya dengan sang guru. Ia juga siap melepas beasiswanya. Namun sebuah keajaiban terjadi.

Disaat acara pemenang lomba menulis akhir tahun itu hampir diumumkan, tiba-tiba William muncul dan meminta waktu membacakan sebuah paragraf. Seluruh orang yang ada diruangan itu terkejut ketika ia menyebutkan nama sambil menunjuk foto yang tergantung diatas dinding. Mereka terdiam. Apa yang dibaca William sangat menohok perasaan. Kalimatnya sederhana, lugas, dan dalam. Tentang keluarga dan persahabatan. William membacanya dengan sepenuh hati. Hadirin bertepuk tangan riuh.

William katakan bahwa ia ada diruangan itu karena seorang sahabat mengijinkannya untuk hadir. Sahabat yang tetap melindunginya di saat William tak bisa melakukan hal yang sama. William beritahu semua orang di ruang itu bahwa ia membantu Jamal menemukan kata-katanya dengan meminjamkan kalimatnya asal Jamal tak menceritakan pada siapapun tentang dirinya. Dan janji itu dipegang teguh. Meski Jamal nyaris kehilangan segala kebanggaannya sekaligus. Itu lah seorang sahabat sejati. Dibaritahukannya juga bahwa paragraf yang dibacanya tadi bukan tulisannya, itu karya Jamal. Hadirin terhenyak dan berdecak kagum sebelum kemudian bertepuk tangan riuh lagi. Sebuah tepuk tangan kebanggaan dan penghormatan. Pengakuan akan sebuah karya dan talenta.

Jamal memang menulis karena ia punya bakat. Tapi bakat saja tak cukup. Perlu pengetahuan tentang bagaimana menulis yang baik dan terus berlatih. Dari sana lah pisau bakat itu menjadi kian tajam dan mengkilap. Sungguh sebesar apapun bakat menulis seseorang, tak akan pernah berkilau jika ia tak terus melatihnya. Tak cukup disitu. Penulis harus mulai membiarkan tulisannya dibaca orang lain. Seorang penulis harus belajar menghakimi tulisannya. Hingga ia bisa terus melakukan perbaikan-perbaian. Karena tulisan yang baik tak akan pernah mencapai kesempurnaannya. (Diana AV Sasa)

JUDUL : THE RULES OF LIFE: Aturan Pribadi Untuk Hidup Lebih Baik, Bahagia, Dan Sukses.

Penulis : Richard Templar

Penejemah : Sigit Purwanto

Cetak : 2008

Tebal : 226 + Xiii

Penerbit : Esensi, Erlangga

Bahagiakah anda menjalani hidup ini? Apakah anda merasa bingung menentukan arah hidup? Apakah anda gagal dan sulit memaafkan kesalahan diri sendiri? Apakah anda memendam dendam? Apakah hidup anda membosankan? Apakah anda sedang putus asa? Apakah anda tidak betah dirumah? Apakah anda dijauhi rekan kantor? Apakah anda merasa tak berati?

Jika anda menjawab lebih dari dua rentetan pertanyaan diatas denagn jawaban YA, maka anda perlu untuk segera membaca buku THE RULES OF LIFE karya Richard Templar ini. Seperti halnya sub judul yang tertera, Rules of Life adalah sebuah aturan pribadi untuk hidup lebih baik, bahagia, dan sukses. Berisi 50 ‘aturan-aturan’ untuk diri anda, 16 aturan berpasangan,13 aturan keluarga dan teman, 13 aturan social, dan 8 aturan dunia, Richard ingin membantu anda untuk mengingat kembali tujuan hidup anda dan merumuskannya dengan sederhana,jelas, dan dapat diwujudkan.

Richard menulis, banyak orang yangmenjalani kehidupan dengan sukses, bahagia, penuh kesyukuran, dan dapat mencapai banyak hal. Banyak pula yang merasa tidak bahagia, kehilangan sesuatu dalam dirinya, dan menghabiskan waktu untuk menunggu keajaiban yang memberinya inspirasi. Sebenarnya perubahan hanya masalah kemauan untuk melakukan sedikit perubahan kecil pada perilaku kita. Kebahagaiaan dan kebermaknaan hidup tentu dapat diwujudkan. Memang sulit, tapi sebenarnya begitu sederhana dan dapat dicapai. Tinggal seberapa besar kemauan kita untuk mejadikannya wujud.

Sebelum merumuskan langkah-langkah untuk menjadikan hidup bermakna dan kita bahagia menjalaninya, kita harus mengetahui makna kebahagiaan bagi diri kita masing-masing. Apakah hal-hal yang membuat kita bahagia? Apakah melakukan hal-hal yang buruk membuat kita benar-benar bahagia? Kita harus bisa menemukan kebahagiaan kita sendiri karena hanya kita yang paling tahu diri kita sendiri. Setelah itu kemudian kita diingatkan untuk selalu mendedikasikan hidup kita untuk sesuatu. Terserah anda, apapun itu,asal baik menurut anda, dan membuat anda ingin mencapainya. Dari sini kita jadi jadi tahu kemana arah tujuan hidup ini akan kita bawa. Setelah itu kita akan menentukan standard kehidupan. Apakah kita cukup bahagia jika yang tercapai hanya30%? Ataukah kita baru bahagia jika semua tujuan itu tergapai. Masing-masing orang mempunyai standar berbeda. Standard ini akan menjadi tolak ukur keberhasilan setiap langkah yang nanti akan kita rumuskan.

Richard kemudian menggiring kita pada 50 aturan kehidupan yang membantu kita untuk memilah-milah dan menentukan mana yang baik, mana yang buruk. Mana yang akan kita ambil mana yang akan kita buang. Mana yang akan kita ikuti mana yang akan kita tinggalkan. 50 aturan memang banyak, dan kita bukan malaikat yang akan mampu sempurna menjalankan/mematuhi aturan tersebut. Kita bisa memilihnya sesuai dengan kondisi yang kita hadapi. Catat baik-baik dan jadikan pengingat setiap kali kita mengalami hal yang sama. Dari sini kita akan menemukan identitas diri sesuai dengan yang kita kehendaki tanpa mengabaikan kemungkinan lain diluar kita yang mungkin bertentangan. Selalu ada cara untuk menghadapi lawan secara bijaksana, dan Richard memberikan beberapa tipsnya disini.

Bagi anda yang mempunyai masalah dengan pasangan, Richard memberikan 16 aturan mendasar yang mungkin bisa membantu anda memperbaiki hubungan. Richard memberikan paparan sederhana dan menuliskan kunci penting dari dua orang yang berbeda dan tentu saja memiliki aturan kehidupan yang berbeda pula. Seperti banyak ahli katakan, menghormati dan menjaga privasi pasangan adalah kunci penting. Memberi kesempatan pasangan untuk menjadi diri sendiri, bersikap baik, meminta maaf lebih dulu, berusaha lebih keras untuk membahagiakannya, serta mngetahui kapan harus bicara dan kapan harus mendengar adalah beberapa aturan yang mesti kita jadikan evaluasi hubungan kita. Jika masih tidak ketemu, maka review ulang tujuan bersama perlu dilakukan. Dari sini anda akan bias merumuskan langkah-langkah yang perlu anda lakukan bersama pasangan untuk mewujudkan tujuan hidup anda.

Lebih luas lagi, Richard memandu kita untuk melihat lagi kualitas hubungan kita dalam keluarga dan teman-teman kita. Kita diajak membuat garis sendiri bagi target yang telah kita tentukan diawal. Mana aturan yang akan kita ambil dalam menjalin relasi perkawanan dan keluarga, Richard memberikan 13 aturan utama. Anda akan dingatkan bagaimana anda bersikap sebagai orang tua pada anak dan sebagai anak kepada orang tua. Keduanya mempunyai relasi yang berbeda. Kita akan bisa melihat bagaimana akibat yang ditimbulkan oleh tujuan hidup kita terhadap keluarga dan kawan-kawan kita.

Setelah dapat memilih aturan untuk bergaul dalam keluarga dan teman, lebih luas lagi kita akan dipandu memilih aturan dalam bergaul di lingkungan sosial yg lebih luas lagi. Richard mengingatkan hal-hal yang akan membantu kita mencapai tujuan hidup, dan hal-hal yang justru akan mengganggunya. Kita juga diajarkan untuk memikirkan manfaat tujuan hidup kita itu bagi mereka. Kita mesti memikirkan efek jangka panjang dari tujuan hidup kita itu, juga langkah-langkah yang telah kita rumuskan diawal, sehingga kita akan terdorong untuk selalu berpikir dan bersikap baik dengan moral yang tinggi karena rasa tangung jawab social itu.

Terakhir, Richard mengajak kita membuka mata lebih lebar, melihat akibat yang ditimbulkan bagi dunia dari tujuan hidup, langkah untuk mencapainya,serta pilihan aturan yang telah kita tentukan untuk kita ikuti diatas. Kita mesti mempertimbangkan bagaimana sejarah akan mencatat kita. Sebagai orang baik yang bermanfaat bagi keluarga, teman, lingkungan social, dan bahkan dunia, atau justru sebaliknya, merusak. Kita harus memikirkan kehidupan kita jika kita ingin berhasil dalam hidup ini. Kehidupan ini mesti diberi makna dengan hal-hal yang bermanfaat, sehingga kita diatas bumi ini menjalani kehidupan dengan hikmat, bukan sekedar mayat hidup yang menjalankan takdir kehidupan tanpa upaya. Hidup harus bermakna!

COMMENT : Buku ini sesuai untuk motivasi diri. Disajikan dengan lay out yang sederhana, mudah diingat, dan ringkas. Kita bisa membukanya sewaktu waktu, di sembarang halaman, membaca sebagian dan akan menemukan sebuah inspirasi. Atau sekedar membaca kalimat-kalimat penting yang dicetak khusus dalam kotak insert, untuk mengingatkan kita ketika lemah motivasi dan butuh semangat untuk memulai/bangkit lagi dari keterpurukan kecil. Buku ini bukan sekedar chicken soup, it is a complete breakfast.

Judul : MALA : Tetralogi Dangdut 2
Penulis : Putu Wijaya
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun terbit : april 2008
Editor : Kenedi Nurhan
Tebal : viii+336
Dimensi : 14x21cm
ISBN : 978-979-709-360-0
Harga : Rp.54.000
RESENSI :
MALA akhirnya bersedia mengakui bahwa dia adalah pelaku mutilasi pada korban yang diakui sebagai Midori, bintang film panas sekaligus sahabatnya itu. Sahabat yang telah menyeretnya pada sebuah konspirasi politik yang tidak dikehendakinya.
Pengakuan itu dilakukan MALA dengan jaminan bahwa NORA,istri yang kekasihnya tidak akan dibunuh. Cintanya pada NORA yang lugu dan sederhana itu ternyata mampu membuatnya bersedia mengorbankan hal-hal terpenting dalam hidupnya.

Selama MALA berada dalam penjara, kantor media tempatnya bekerja telah mengalami perubahan besar. Gedungnya sudah tak lagi tua dan kumuh. Berubah menjadi gedung menjulang tinggi. Adam, yang mengaku sebagai sahabatnya, yang juga sekaligus menyeretnya masuk penjara, menjadi salah satu jajaran pimpinan bersama Budi, wartawan yang dulu menulis tentang Midori dan menyudutkannya. Saras, wartawan yang dulu sering bertengkar dengan Budi, atas nama cinta akhirnya menyerah pada pelukan Budi dan menjadi istrinya, mereka dianugrahi dua orang anak. Saras,Budi, yang dulu begitu idealis itu telah berubah menjadi manusia yang silau pada kemewahan dan kemapanan. Adam menguasai mereka dengan materi hingga mereka kehilangan nalar kritisnya. Semua menjadi nisbi.
“Dan kita mau saja dikuasai karena kita tergantung…hidup enak ini telah membuat kita menjadi lemah dan lembek”(48)
Kantor kecil itu ternyata penuh konspirasi besar, sarat akan kekuasaan. Adam begitu licin dan licik memainkan peran. Skenario disusun dan dimainkannya dengan indah, halus dan lembut. MALA sengaja disingkirkan karena dianggap menggalang gerakan makar di kantor dengan mempekerjakan orang-orang yang ‘tidak bersih lingkungan’.
“Waktu itu kita dihadapkan kepada dua pilihan. Membela satu orang yang tidak bersalah, tapi menghancurkan hidup ratusan orang yang bergantung pada perusahaan. Atau manunda,sambil mencari waktu yang tepat untuk mengembalikan kebenaran pada kebenaran dan keadilan pada keadilan. Sebab kalau waktunya tidak tepat, kebenaran dan keailan hanya akan menjadi teori indah yang tak berguna. “ (45)
Pimpinannya bertekuk lutut pada seseorang yang ditelepon selalu berkata “dari pada demikien…. Bla bla bla Diusahaken bla bla bla…” Adam menurut karena punya ambisi ingin jadi presiden. Untuk itu dia harus dicalonkan partai. Partai mau menerima asal Adam menguntungkan partai. Untuk mewujudkan itu, medianya harus ‘bersih’.

Sementara MALA semakin dilupakan setelah bertahun-tahun kasusnya berlalu. Media tak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang ‘penting’. Tak ada lagi yang terlalu peduli tentang kebenaran bahwa MALA benar membunuh atau tidak. Tak ada lagi yang ingin tahu siapa sebenarnya pembunuh Midori, atau benarkah itu mayat Midori. Berita tentang kebebasannya pun hanya mengisi kolom kecil disudut Koran, kalah dengan head line berita KAKEK MEMPERKOSA CUCUNYA KETIKA LAGI SHALAT. Kebenaran bisa menjadi begitu salah dan begitu benar ditangan pers. Pers mempunya kuasa yang begitu besar untuk menentukan sebuah kebenaran. Pers mempunyai control utama pada apa yang akan diperhatikan orang dan apa yang akan diabaikan. Dan Adam memainkannya dengan mulus. “Apakah artinya kebenaran kalau bertahun tahun menghilang. Apakah ini akan kembali benar dalam kehidupan sekarang yang sudah sangat berbeda. …” (31) “Sebuah berita kecil lewat dan tidak ada orang yang peduli. Padahal dalam berita itu ada lorong untuk membaca kebenaran. “(39)

MALA tak lagi mempedulikan apakah dia masih penting atau tidak bagi teman-teman dan orang lain. Yang penting baginya setelah bebas adalah menemukan kembali NORA dan mencintainya, memberinya belaian, kecupan, percintaan yang selama ini hanya ada dalam hayalnya. Dia akhirnya sadar bahwa NORA adalah sebagian dari hatinya.
“ Hanya kamulah yang masih kumiliki sekarang, karena semua orang tak ada di tempatnya ketika aku memerlukan . Hanya kamulah yang masih terus menjadi titik yang tak bergerak, tempatku memandang. Hanya kamulah rumahku, tempat aku rindu dan kembali, meskipun kamu mungkin tak setuju. Aku mencintaimu,NORA,”
Sayang NORA tak pernah tau isi surat itu, dia hanya bisa membaca namanya disurat itu, dan itu saja cukup untuk membuatnya berbunga-bunga. Hal sepele yang tak perlu repot untuk membuatnya bahagia. Menemukan namanya ditulis MALA dalam suratnya, tak peduli apa isinya. NORA pun mencintai MALA,menunggunya bebas, menanti percintaan dengannya, dan terus menunggu MALA bergerak mendekatinya. Tapi yang didapatinya adalah MALA pergi dengan meninggalkan sebuah buku catatan. Buku yang berisi tumpahan kecintaan, kerinduan, dan kekecewaannya pada NORA.

MALA merasa hidupnya tercabik dan terlempar begitu jauh. Dia merasa pengorbanannya sia-sia. Dia pertaruhkan hidupnya, karirnya, masa depannya untuk mengakui perbuatan yang tak pernah dilakukannya, hanya demi kecintaannya pada NORA. Tapi yang didapatinya adalah pengkhianatan(menurut anggapan MALA). NORA menikah dan bercinta dengan orang lain, sementara dia menahan seluruh hasratnya dan berharap NORA hanya akan menjadi miliknya satu-satunya seutuhnya.

NORA tak mengerti mengapa MALA pergi, dia merasa tidak melakukan apa-apa. Dia hanya bergerak sebagaimana tubuhnya mengalir. Dia bicara dengan bahasanya, bukan bahasa MALA. Dia masih menunggu dengan setia, membeiarkan dirinya tetap perawan, dan berharap MALA akan kembali. Tapi MALA tak pernah kembali. Selamanya.

Judul : TUHAN IJINKAN AKU MENJADI PELACUR (TIAMP) : Memoar Luka Seorang Muslimahmuhyiddin

Penulis : MUHYIDDIN M DAHLAN

Penerbit :

Harga :

Halaman :

ISBN :

RESENSI

Buku ini pertamakali kubaca sekitar tahun 2003- 2004. Saat itu masih susah untuk dapet buku ini, soalnya sempat mau dibakar segala setelah muncul kontroversi. Aku dapat dari nitip seorang kawan yang jalan-jalan ke Jogja. Itupun dia dapetnya mesti muter seluruh toko buku dan cuma dapet satu, yang tinggal satu-satunya. Harganya 28.000. Aku tahu buku itu dari seorang teman.

Pertamakali membaca buku ini, aku merasa ditelanjangi. Semua kalimat yang ditulis seperti menterjemahkan apa yang aku alami. PERSIS…!!! Pemberontakannya pada Tuhan, Ketidak percayaannya pada Cinta, Perkawinan, dan Laku-laki. Semua sedang kualami. Aku dalam kondisi depresi dan kecewa yang berat. Hanya saja aku belum menentukan pilihan akan kemana membawa alur perahu kehidupanku, Tokoh di buku ini sudah, Dia memilih menjadi pelacur sebagai bentuk pemberontakan dan sekaligus aktualisasi atas kekecewaanya.

Nidah Kirani, dalam kegamangan hatinya menemukan komunitas islam kanan yang mendekatkannya pada konsep-konsep ketuhanan dengan sandaran hati. Nidahpun tersentuh, terpesona dan jatuh hati pada kesantunan dan kelembutannya. Maka totalitaspun diberikannya. Namun yang diterimanya kemudian, bukan kepuasan melainkan kekecewaan. Kesadarannya memberontak ketika banyak hal yang ditemuinya saling bertentangan. Banyak kemunafikan, manusia-manusia bertopeng di sekitarnya. dia pun mulai mempertanyakan eksistensi Tuhannya.

Dalam kekecewaannya, Nidah berkelana. Dari satu organ ke organ lain. Mengeksplorasi habis-habisan kecerdasannya. Mengungkapkan semua ide dan hasrat ingin tahunya.  Bertemu satu laki-laki ke laki-laki lainnya. Dan pertahanan diri yang lemah mendorongnya untuk memenuhi hasrat nafsu manusiawinya, BERCINTA,BERSETUBUH dengan dalih pemberontakan. (Padahal sebeneranya hanya cara lain untuk melampiaskan kejenuhan, kekesalan,kekecewaan, dan kebuntuan hati)

Laki-laki yang ditemuinya, yang menidurinya, adalah figur-figur yang dalam penampakannya menampilkan sisi-sisi idealis, sisi sisi religius,sisi-sisi yang ‘BAIK’. Hal ini yang menjungkir balikkan  lagi keyakinan dan kepercayaannya. Yang tampang ustadz, menidurinya, yang seniman menidurinya, yang aktivis menidurnya. Dalam suasana hati yang luluh lantah, kepercayaannya pada laki-laki, perkawinan,dan cinta pun menjadi Nihil.

Dan dengan perasaan nista, putus asa, marah, kecewa, dia berusaha untuk bangkit dan tak mau kalah. Maka dicarinya pembenaran-pembenaran yang dapat menguatkan hatinya. Hingga dia pun dapat berdiri tegak, mengangkat dagu, dan menantang dunia, tuhan, dan realitas. Di perantarai seorang dosen pembimbing skripsinya , Nidah menasbihkan diri untuk melacurkan diri. Sebagai bentuk pemberontakannya pada Tuhan terkasihnya

COMMENT/KOMENTAR

Jika membaca buku ini dalam kondisi kosong, depresi, anda akan hanyut dan terbawa dalam kemurungan berkelanjutan. Jika membaca buku ini dalam kondisi berbunga-bunga atau gembira, anda akan lekas bosan. Jika membaca buku ini ketika sedang serius dan minat untuk berdiskusi, anda akan menemukan pencerahan dan bahan diskusi menarik. Baca saja ketika sedang tenang. Saya membeli buku cetakan terbaru, membacanya lagi, dan efeknya biasa saja.

Mukti :January Rhapsody

Pertama kali mendengarnya,

Terdengar aneh di kuping.

Dua kali mendengarnya,

Masih sambil selintas lalu

Tiga kali mendengarnya,

Mulai terkesan liriknya.

Empat kali mendengarnya,

Mulai bisa berdendang.

Lima kali mendengarnya,

Mulai hafal liriknya.

Enam kali mendengarnya,

Penasaran ingin dengar lagi.

Tujuh kali mendengarnya,

Ingin dengar lagi

Delapan kali,

Serasa jatuh hati pada lirik, pada nada dan suaranya.

Begitu jujur…. dan tak biasa….

“Ketika aku bisikkan sayang, ditelingamu

Kau tersipu lalu sunggingkan senyuman

Cinta hari ini

Kita lukiskan di kanfas hatiMukti

COMMENT : Cocok buat kalian yang sedang kasmaran, dan suka hal-hal yang tak biasa

Judul : Berbagi Suami/ Love To Share

Sutradara : Nia Dinata

Produksi : 2006

Genre  : Drama

Durasi : 90 Menit

Produksi : Kalyana Shira film

Pemain : Jajang C Noer, El manik, Winky Wiryawan,  Nungky Kusumastuti, Ria Irawan, Rieke Diah pitaloka, Shanty, Dominique, Tio Pakusadewa, Ira Maya Sopha

Cameo: Aming, Maudy Kusnaedi, Alvin Adam, Erwin Parengkuan dan Lula Kamal.

RESENSI

Film yang menyuguhkan realitas poligami secara lebih manusiawi dan realistis.

Disajikan dalam tiga keping cerita perempuan yang hidup dalam kondisi berbagi suami dengan perempuan lain.

Adalah Salma (Jajang C Noer) yang menjadi istri seorang politikus (El Manik). Usianya yang sudah hampir 5otahun, profesinya sebagai dokter kandungan, anaknya semata wayang (Winky wiryawan), membuatnya begitu legowo dan nerimo ketika suaminya mempunyai istri baru, bukan satu tapi tiga…! salah satunya bahkan baru diketahuinya ketika suaminya sudah berkalang tanah. Salma dengan hatinya yang luas membuka pintu rumahnya untuk istri-istri mudanya. Terus setia,sabar, mengerti  dan hangat hingga dapat merebut kembali hati suaminya.

Adalah  Siti(Shanty), gadis Jawa yang dibawa ke Jakarta oleh Pamannya (Lukman Sardi) yang beristri dua. Mereka hidup serumah dengan akur meski dalam kondisi yang serba kurang dan seadanya. Tapi keluasan hati mereka untuk saling menerima satu dengan yang lain membuat rumah sempit itu menjadi lapang terasa. Siti akhirnya dikawini oleh pamannya sebagai istri ketiga. Tapi dalam perjalannya, Siti ternyata justru jatuh cinta pada Dwi, istri kedua Pamannya (Rieke Diah Pitaloka). Merekapun terlibat cinta sejenis yang akhirnya mendorong mereka untuk berani kabur dari rumah dengan membawa dua orang anak dari istri pertama.

Adalah Ming (Dominique) Gadis Tionghoa yang menjadi pelayan Di warung Koh Agun. Kehadirannya membawa kemajuan pesat bagi warung Koh Agun. Tapi juga menghadirkan cinta diantara mereka. Ming akhirnya mau dijadikan perempuan simpanan dengan segala kemewahan fasilitas. Hidup Ming mendadak berubah.  Pacarnya yang sutradara pun di abaikannya.Namun Ming tak bisa berlama-lama menikmati gelimang kemewahan itu, rahasianya diketahui istri Koh Agun. Ming ditinggalkan Koh agun untuk menjadi Warga Negara Amerika . Segepok uang ditinggalkan untuknya.

KOMENTAR/COMMENTS

Film yang wajib tonton buat mereka yang suka film bermutu. Di film ini tergambar jelas betapa poligami membawa banyak kerugian bagi perempuan, betapapun perempuan itu dapat menerimanya. Penyakit kelamin yang dialami Sri (istri pertama Pak Lik) adalah akibat paling buruk yang harus ditanggung. Penyakit kelamin itu bukan hanya akan mengerogoti kekebalan tubuh tapi juga berakibat buruk/cacat pada anak janin (ini tidak tergambar pada film ini, namun faktual). Orang-orang yang agamis yang mengatakan poligami itu fitrah hingga tak akan mendatangkan penyakit(seorang peserta pelatihan gender yang saya pandu pernah mengatakan ini), layak berpikir ulang.

PESAN : Ijinkan Suami berpoligami, tapi jangan mau lagi bersetubuh dengannya, jika kau masih ingin sehat wahai perempuan. Lihat film ini sebagai referensi. Berbagi Suami